"Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet."
Ping merasa telah memiliki segala yang ia butuhkan. Dunianya yang damai di Pantai Batu Karas, rumahnya yang penuh alat musik di tepi Sungai Cijulang, seorang sahabat terbaik, serta kakek yang menyayanginya. Namun, diam-diam Ping menyimpan kegelisahan tentang masa depannya yang buram. Bakat musiknya yang istimewa tidak memiliki wadah, dan ia tidak berani bercita-cita. Hidup Ping jungkir balik…
Bujang yang masih saja merasa bingung soal makna pulang dan pergi. Bujang yang mengunjungi pusara orang tuanya di lembah Talang. Kenangan Bujang seputar kampung halamannya cukup menyesakkan. Intinya adalah tidak ada apa-apa di Talang yang membuatnya harus kembali secara untuh. Hal paling istimewa di Talang adalah makam kedua orang tuanya. Bujang akhirnya pergi ke Rusia untuk memenuhi keinginan …
Ayah Fei memberikan hadiah tiket rumah hantu untuk Fei dan teman-temannya. Mendengar cerita bahwa pernah ada pengunjung rumah hantu yang tersesat, Kiara menjadi ketakutan. Meski begitu, Fei dan teman-temannya tetap pergi. Begitu keluar dari rumah hantu, Kiara menghilang. Apa yang terjadi, ya?
Dengan keterusterangan saya merasa bahagia. Akan tetapi, dalam dunia saya sebagai pengarang, saya juga menolak fitnah, anarki, dan kesewenangwenangan. Meskipun pada waktu menulis saya tidak pernah membayangkan adanya pembaca, saya tidak berhak meneror pembaca dengan kepalsuan.---Budi Darma
Di Negeri di Ujung Tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi. Di Negeri di Ujung Tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian. Tapi di Negeri di Ujung Tan…