Chairil Anwar, sang "binatang jalang" dalam kumpulannya terbuang ini merupakan sosok penyair yang penuh totalitas dalam berkarya. la hidup untuk puisi! Bukan berpuisi untuk hidup! Prinsip inilah yang mengantarkannya menjadi sang pendobrak angkatan pujangga baru dan menjadi pelopor angkatan '45. Chairil Anwar diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk di antaranya 70 puisi. Karya-karyanya …
apakah hatiku mangkuk dangkal yang pecah— yang alangkah mudah diisi, namun mustahil penuh? apakah mencintai diri sendiri berarti menjadi batu yang dilemparkan ke lautan lepas tanpa dasar?mengapa darah lebih api daripada api? mengapa luka tidak memaafkan pisau—& mata pisau bisa membayangkan dirinya sebagai cermin? mengapa kita mesti memiliki banyak pengetahuan untuk bisa memahami bet…
Since 1998, which marked the end of the thirty-three-year New Order regime under President Suharto, there has been a dramatic increase in ethnic conflict and violence in Indonesia. In his innovative and persuasive account, Jacques Bertrand argues that conflicts in Maluku, Kalimantan, Aceh, Papua, and East Timur were a result of the New Order's narrow and constraining reinterpretation of Indones…
Turn food from foe to friend with this bestselling guide to developing healthy eating habits through mindfulness practices—from a beloved Zen teacher Food. It should be one of life’s great pleasures, yet many of us have such a conflicted relationship with it that we miss out on that most basic of satisfactions. But it is possible—and not really all that difficult—to reclaim the joy …
A riveting, poetic, and fearless portrait of political unrest and the universal struggle for justice by the acclaimed author of The Vegetarian. In the midst of a violent student uprising in South Korea, a young boy named Dong-ho is shockingly killed. The story of this tragic episode unfolds in a sequence of interconnected chapters as the victims and the bereaved encounter suppression, den…
Buku ini menyajikan perspektif yang penuh empati tentang jilbab dan pilihan perempuan.
Sekiranya masih hidup dan diminta memerikan situasi Republik Indonesia di awal abad ke-21, Mohammad Hatta hanya perlu mencetak-ulang tulisannya yang pernah terbit pada 1962: "Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya.... Perkembangan demokrasi pun telantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah." Buku ini memap…