Willy Nilly is off to the shop to buy a cabbage. “Yuk!” he says. “Don’t say that, Willy Nilly!” says his mum. So Willy Nilly tries very hard to always say the right thing but somehow he always says it just at the wrong moment. “Don’t say that, Willy Nilly!” he’s told. Will Willy Nilly ever get it right?
The Third Indochina War – comprised of the Vietnam-Kampuchea War from 1978 to 1990 and the brief Sino-Vietnamese War in February 1979 – has received far less scholarly attention than the earlier two Indochina Wars. Ang Cheng Guan utilises a wide range of archival and secondary material, including Vietnamese, Cambodian, Chinese, Soviet, American, British, Australian and ASEAN sources, to pro…
Sebelum makan, Pangeran Dani cuci tangan, Selesai bermain, Pangeran Dani cuci tangan lagi. Berbeda dengan Pangeran Dani, Pangeran Keno justru malas cuci tangan. Suatu hari, Pangeran Keno menyesal karena ia jarang mencuci tangan. Ia baru tahu akibatnya. Apa akibat malas mencuci tangan? Yuk, cari tahu bersama.
Lily and her ex-husband, Ryle, have just settled into a civil co-parenting rhythm when she suddenly bumps into her first love, Atlas, again. After nearly two years separated, she is elated that for once, time is on their side, and she immediately says yes when Atlas asks her on a date.
Sebagai hadiah ulang tahun, ibu akhirnya mengajak Ataya ke toko buku. Banyak buku KKPK yang ingin dibeli oleh Ataya. Ataya sangat senang karena punya buku baru. Ketika Ataya sedang asyik membaca buku, tiba-tiba adiknya Fathiya merangkak dan merebut bukunya. Mereka saling tarik-menarik buku, hingga bukunya sobek. Akankah Ataya marah kepada
aku sampai padamu, malin dengan sepenuh degup yang tak bisa disembunyikan tali-temali, pecahan kapal yang sepenuhnya palsu. juga dirimu, tak berarti apa-apa sejarah perlu penanda, yang abadi butuh bukti. aku datang padamu, malin dengan rusuh hati tak terkendali. kau terjepit di antara berisik pariwisata telungkup sendirian sebagai pendosa yang terus dikutuk setiap penziarah mengabadikanmu da…
Menua dengan Gembira merupakan buku kumpulan esai pertama Andina Dwifatma. Ia menyebut esai-esainya dalam buku ini sebagai kumpulan rasan-rasan tentang kehidupan warga pinggiran kota. Tinggal di pinggiran Jakarta selama lima belas tahun memaparkan Andina pada banyak persoalan. Mulai dari perkara-perkara yang terjadi di sekitar kompleks tempat tinggalnya hingga masalah transportasi umum yang mem…