Bayangkan jika jamur bisa bercerita, lebah mulai menarikan tarian lebah, dan kumbang rusa mulai berpesta! Buku ini mengajakmu berkenalan dengan makhluk yang hidup di alam, mulai dari rusa yang senang melompat, katak yang bermetamorfosis, hingga ngengat yang mencari cahaya Bulan. Tiap halaman disusun dengan bahasa yang indah dan puitis, serta dilengkapi fakta-fakta menkajubkan. Yuk, dengarkan ce…
How did we conclude that the best way to prepare kids for the future is to cluster them into classrooms by age and grade, forcing them to learn the same things, at the same time and pace, seven hours a day, five days a week, for twelve years? We trust the school system to prepare our kids for the future. We get excited when they get good grades, or disappointed if they don't. But we rarely stop…
Bayangkan jika laut bisa bercerita, pejantan bisa mengandung, dan hewan laut bisa bernyanyi! Buku ini mengajakmu menyelami dasar samudra, mulai dari paus bungkuk yang kesepian, penguin yang berpelukan, hingga tangisan penyu laut yang mencari jalan pulang. Tiap halaman disusun dengan bahasa yang indah dan puitis, serta dilengkapi fakta-fakta menakjubkan. Yuk, dengarkan cerita mereka dan temukan …
Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Dan roman keempat, Rumah Kaca, memperlihatkan usaha kolonial memukul semua kegiatan kaum pergerakan dalam sebuah operasi pengarsipan yang rapi. Arsip adalah mata radar Hindia yang ditaruh di mana-mana untuk merekam apa pun yang digiatkan aktivis pergerakan itu. Pram dengan cerdas mengistilahkan politik arsip itu sebagai kegiatan pe-rumahkaca-an. …
Kehadiran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namun juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. Karena itu hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda.
Kartini (diam-diam) sudah melakukan pemberontakan atas nilai-nilai kebudayaan Jawa yang feodalistik. Tentu saja ini simpulan yang mengagetkan. Bukan apa-apa, masalahnya pemahaman kita terhadap Kartini memang amat terbatas, jika tidak disebut dangkal, atau bahkan reduksionistik: Kartini adalah pelopor emansipasi perempuan. Titik. Simak pula ritus yang diadakan tiap 21 April sebagai selebrasi kel…