Di sebuah dataran tandus dan terpencil, Tuan Mahmut dan asistennya, Cem, bekerja menggali sumur dengan berbekal peralatan tradisional dan naluri yang kuat. Kondisi yang berat itu mendekatkan mereka, bahkan mengubah hubungan tuan-asisten tersebut menjadi seperti ayah-anak. Sementara air yang dinanti tak kunjung muncul, Cem justru terpikat primadona teater keliling, seorang wanita berambut merah.…
"Sekarang aku akan membuat sebuah cerita mengenai `jiwa yang hilang' itu." Aku duduk dan memulai sebuah cerita. Tapi aku tidak tahu. Aku hanya ingin melakukan apa yang harus aku lakukan. Di benakku hanya ada kata 'Omelas'. Kata itu berasal dari papan penunjuk jalan: Salem (Oregon) dieja dari belakang. Pernahkah kau mengeja papan penunjuk jalan dari belakang? Itnehreb. Nalep-nalep. Kana-kana…
Ketika pulang sekolah, Alika bertemu dengan Mira dan Ibunya yang memakai jilbab. Afika jadi tertarik memakai jilbab. Ia berencana mengajak kakaknya, Sarah dan Ibunya agar memakai jilbab juga. Bagaimana penampilan Alika yang baru? Ikuti cerita Alika yuk!
Tidak ada yang berarti banyak. Tidak banyak yang benar-benar berarti. Hanya ada air mata di wajah Rahel dan Esthappen. Kehampaan dan keheningan menyayat batin keduanya. Dua saudara kembar itu berpelukan erat, saling menguatkan. Terlalu banyak luka yang mengungkung hidup Rahel dan Esthappen. Peristiwa masa silam berkelindan dengan apa yang mereka hadapi kini, terus saja menggoreskan pilu.…
Are you made fainthearted by death? Does fire unnerve you? Is a villain something that might crop up in future nightmares of yours? Are you thrilled by nefarious plots? Is cold porridge upsetting to you? Vicious threats? Hooks? Uncomfortable clothing? It is likely that your answers will reveal A Series of Unfortunate Events to be ill-suited for your personal use. A librarian, bookseller, or …