Very Little Red Riding Hood is little. Very little. She's brave and bossy, fearless and determined, loving and funny. And like all toddlers she likes everything just so – woe betide anyone and anything that gets in her way! Join Very Little Red Riding Hood on a very important expedition to her Grandmama's for a sleepover. She's got some cakes, she's got red ted, she's got her blanket an…
Saya tidak peduli sedang membaca puisi, prosa, drama, atau nonfiksi, yang saya pedulikan adalah gagasan di dalamnya, hal itu juga terjadi ketika saya menulis. Genre bukan hal yang penting; yang penting ialah sampainya sebuah gagasan. Genre hanyalah kereta api, pesawat, sepeda, kapal laut—gagasan adalah orang-orang yang mengendarainya dan semua kendaraan tersebut akan tiba pada tujuannya. Hari…
One day class two went to the zoo, they saw a koala kissing a kangoroo
'Having adventures comes natural to some people,' said Anne serenely. 'You just have a gift for them or you haven't.' Five years ago, a skinny, unwanted orphan arrived at Avonlea without a friend in the world; now it would be impossible to imagine Green Gables without Anne. Her high spirits and warm heart have won her a family and friends who love her. But when Anne starts a new job as a tea…
'All life lessons are not learned at college. Life teaches them everywhere.' At eighteen years old, Anne is leaving Green Gables for university-- her life's dream. But her feelings are bittersweet: although excited to see the world, she is heartbroken to leave her her home and everyone she loves. Before long she has made new friends-- including handsome Roy Gardner, who seems to have step…
Sayangku Marwan, kupandang lekuk wajahmu di bawah sinar bulan yang nyaris penuh, Anakku, bulu matamu bagaikan kaligrafi, tertutup dalam tidur yang nyenyak. Dan kukatakan kepadamu, “Genggam erat tanganku. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi.” Khaled Hosseini menulis buku ini sebagai keprihatinan atas krisis pengungsi yang saat ini terjadi di dunia. Dia tergugah oleh foto Alan Kurdi…
Serpihan-serpihan kenangan yang sangat personal–bersama sentimentalismenya–itulah Ampenan bagi saya. Pertama kali menulis puisi perihal kota ini adalah ketika saya tidak lagi bermukim di sana. Ketika saya sudah dewasa, rumah dijual, dan keluarga terpencar-pencar. Seperti ada yang memanggil-manggil saya untuk menuliskannya. Memanglah, sebuah panggilan membutuhkan jarak. Dan saya hanya menuru…
Mengapa saya menulis puisi? Cara saya mencari tahu jawaban dari pertanyaan ini adalah hanya dengan menulis puisi. Ada banyak hal yang belum dan sudah saya ketahui sejak menekuni pekerjaan yang melelahkan ini, sekaligus menyenangkan hati sambil menjaga mata tetap fokus dengan mengonsumsi wortel. Menulis puisi menuntut saya mesti mengendalikan diri saat jatuh cinta dan patah hati. Menulis puisi m…
Cinta menjadi benang merah buku puisi ini. Tema cinta sengaja saya pilih karena bagi saya puisi cinta adalah jenis puisi yang paling menggetarkan. Saya paling senang membaca dan menulis puisi-puisi cinta. Puisi-puisi cinta dalam buku ini akan lebih cocok dibaca dalam suasana sunyi, sendiri, atau dibacakan di hadapan kekasih hati. Beberapa puisi dengan judul bahasa asing dalam buku ini saya a…
Puisi-puisi dalam buku ini adalah upaya saya berdamai dengan diri sendiri, sekalipun sesekali kemarahan muncul dalam bentuk yang redam. Saya menekan emosi agar tidak meledak menjadi sarkas murahan yang akan mengesankan puisi-puisi ini bertindak seumpama preman pasar yang menghakimi orang-orang menyebalkan di sekelilingnya. Untuk sementara (entah kelak), tampil elegan dan bersahaja agaknya jauh …