Buku sejarah Indonesia yang sangat lengkap sejak zaman prasejarah hingga era Indonesia modern. Para sejarahwan, arkeolog, antropolog, filolog, dan ilmuwan sosial terkemuka lainnya terlibat dalam penulisan buku besar ini. Ingin tahu bagaimana sejarah nasional, sejarah yang 'resmi', inilah bukunya.Jaman Jepang dan Jaman Republik Indonesia (1942-1970) 870 Halaman
Buku sejarah Indonesia yang sangat lengkap sejak zaman prasejarah hingga era Indonesia modern. Para sejarahwan, arkeolog, antropolog, filolog, dan ilmuwan sosial terkemuka lainnya terlibat dalam penulisan buku besar ini. Ingin tahu bagaimana sejarah nasional, sejarah yang 'resmi', inilah bukunya.
Lahir dari keluarga kaya di Batavia, MH Thamrin berikhtiar memperbaiki kehidupan warga miskin lewat Dewan Kota dan kemudian Dewan Rakyat—lembaga yang kerap dianggap sebagai boneka pemerintah kolonial. Di sanalah dia bersuara lantang memperjuangkan nasib kaum bumiputra. Saat Sukarno, salah satu tokoh gerakan nonkooperatif, ditangkap karena aktivitas politiknya, Thamrin—yang dijadikan simbol …
Kartini adalah kontradiksi: ia cerdas sekaligus lemah hati. Ia menyerap ide masyarakat Barat tapi tak takluk pada adat. Ia feminis yang dicurigai. Ia dianggap terkooptasi oleh ide-ide kolonial. Tapi satu yang tak bisa dilupakan: ia inspirasi bagi gerakan nasionalisme di Tanah Air. Kartini menyuarakan perubahan. Ia membawa perjuangan perempuan pada fase yang baru, tidak sekadar menuntut pengakua…
"Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit." Pagi itu, 19 Desember 1948, Panglima Besar bangkit dan memutuskan memimpin pasukan keluar dari Yogyakarta, mengkonsolidasikan tentara, dan mempertahankan Republik dengan bergerilya. Panglima Besar sudah terikat sumpah: haram menyerah bagi tentara. Karena ikrar inilah Soedirman menolak bujukan Sukarno untuk berdiam di Yogyaka…
"Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit." Pagi itu, 19 Desember 1948, Panglima Besar bangkit dan memutuskan memimpin pasukan keluar dari Yogyakarta, mengkonsolidasikan tentara, dan mempertahankan Republik dengan bergerilya. Panglima Besar sudah terikat sumpah: haram menyerah bagi tentara. Karena ikrar inilah Soedirman menolak bujukan Sukarno untuk berdiam di Yogyaka…